News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Kerbau Kuasa dan Kalkulasi

Kerbau Kuasa dan Kalkulasi


Menyimak Kepala Kerbau Untuk Jokowi

Seekor kerbau tidak pernah netral dalam politik Indonesia. Ketika Joko Widodo menginjak kepala kerbau di hadapan para penyimbang adat Lampung pada 27 Juni 2026, satu gambar dapat membuat setiap kelompok membaca dirinya sendiri secara berbeda-beda.
‎Itulah mengapa momen ini layak dibedah secara serius, bukan sekadar viral, tapi bermakna dalam lapisan-lapisan yang berbeda. Pada 27 Juni 2026, Jokowi menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" dari lima kerajaan adat Lampung di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung. Di tengah prosesi itulah ia menjalani ritual menginjak kepala kerbau. Ritual berlangsung hanya beberapa detik, tapi meledak lama di ruang publik.
‎Beberapa jam kemudian, pakaian adat dilepas, berganti kemeja dan topi PSI. Jokowi langsung menuju Rakorda PSI Bandar Lampung. ‎Inilah konteks yang harus dipegang sebelum berbicara tentang apa pun.
‎ 
‎DIMENSI 1 : TRADISI
‎Dalam kosmologi adat Nusantara, kerbau adalah lambang kemakmuran, kekuatan, dan pengorbanan. Menginjak kepalanya bukan tindakan merendahkan, melainkan tindakan melepaskan kesombongan, amarah, iri hati, dan kepentingan pribadi, sebelum seseorang memasuki fase dan amanah yang baru.
‎Antropolog Victor Turner menyebutnya liminal space, yakni ruang peralihan di mana identitas lama ditanggalkan dan identitas baru mulai dikenakan. Tradisi ini berakar dari Minangkabau, menyebar melalui jalur perdagangan antarkerajaan sejak abad ke-7 ke Jambi dan Lampung.
‎Ini adalah sumpah yang diucapkan tubuh‎ bukan dominasi. 
‎DIMENSI 2: MODAL SIMBOLIK
‎Pierre Bourdieu mengajarkan bahwa modal simbolik, termasuk legitimasi kultural, dapat dikonversi ke dalam arena-arena lain, termasuk arena politik. Jokowi kini bukan lagi presiden. Namun ia sedang membangun ulang otoritasnya dari pengakuan budaya, adat, dan komunitas lokal.
‎Gelar "Baginda Pemuka Bangsa" dari lima kerajaan adat bukan hanya penghormatan seremonial. Dalam logika Bourdieu, itu adalah akumulasi modal yang suatu saat bisa dicairkan di panggung mana pun yang ia butuhkan.
DIMENSI 3: PDIP DAN LUKA LAMA
‎Guntur Romli, Ketua DPP PDI Perjuangan, menyebut aksi Jokowi sebagai "bentuk kesombongan." Lalu ia buru-buru menambahkan: "Logo PDIP itu banteng, bukan kerbau." Padahal tidak ada yang secara eksplisit menuduhkan itu.
‎Dalam psikologi komunikasi, ini dikenal sebagai preoccupied denial: membantah sesuatu yang belum dituduhkan. Justru dengan membantah, Guntur mengungkap betapa sensitifnya PDIP terhadap segala sesuatu yang terkait Jokowi.
‎Konflik Jokowi-Megawati belum selesai. Dan setiap simbol yang muncul di sekitar Jokowi akan terus dibaca melalui lensa itu.
‎DIMENSI 4 : STRATEGI 2029
‎Selama tiga hari di Lampung (26-28 Juni 2026), Jokowi menghadiri tiga Rakorda PSI di Mesuji, Tulangbawang, dan Bandar Lampung. Semua acara dihadiri bersama Kaesang Pangarep, Ketua Umum PSI. Lampung bukan wilayah netral: pada Pemilu 2024, Gerindra mendominasi dengan 16 kursi DPRD, menggeser PDIP.
‎PSI masuk ke kandang lawan dengan formasi ‎yang sudah disiapkan: Jokowi di depan ‎sebagai magnet massa, Kaesang di‎sampingnya sebagai pemimpin partai.
‎Strateginya adalah mentransfer legitimasi dari ayah ke anak, bangun akar sebelum 2029.
‎DIMENSI 5: KELALAIAN KOMUNIKASI
‎Hingga seluruh acara berakhir, tidak ada satu pun penjelasan resmi dari Jokowi, dari panitia, dari para pemangku adat, mengenai makna ritual menginjak kepala kerbau.
‎Padahal setiap tindakan simbolis yang berdampak publik membutuhkan argumen yang dapat dipahami publik.
‎Ritual adat yang sah dan bermakna dalam tradisinya sendiri tetap dapat menjadi bumerang ketika dibiarkan mengambang tanpa penjelasan. Dalam era di mana satu gambar ditafsirkan seribu cara dalam hitungan menit, diam bukan netralitas. Diam adalah keputusan dengan segala risikonya. 
‎Satu Injakan, Lima Pelajaran
‎Pertama, tradisi adat Nusantara kaya dan dalam, serta sering kali disalahpahami oleh publik yang membacanya dengan kacamata keseharian.
‎Kedua, legitimasi kultural bukan sekadar penghormatan; ia adalah modal yang bisa dikonversi menjadi kekuatan politik.
‎Ketiga, konflik Jokowi-PDIP belum selesai, dan akan terus memberi warna pada setiap langkah Jokowi ke depan.
‎Keempat, PSI sedang membangun fondasi serius untuk Pemilu 2029, dengan Jokowi sebagai mesin utamanya.
‎Kelima, manajemen komunikasi yang absen bukan pilihan aman, melainkan risiko yang ditangguhkan. Seekor kerbau tidak pernah netral dalam politik Indonesia. Di Lampung, 27 Juni 2026, ia sekali lagi membuktikan dirinya. (De lokomotif)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar