News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Membumikan Teologi Al-Ma'un: Refleksi Puasa Arafah dan Ibadah Qurban untuk Kemanusiaan Universal

Membumikan Teologi Al-Ma'un: Refleksi Puasa Arafah dan Ibadah Qurban untuk Kemanusiaan Universal

Oleh: Susilo Aris Nugroho ( Ketua PDM Tubaba )

Bulan Dzulhijjah kembali menyapa kita dengan membawa pesan spiritual yang begitu dahsyat. Di bulan ini, umat Islam sedunia diikat oleh dua momentum ibadah yang sangat monumental yakni Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah dan Ibadah Qurban pada Hari Raya Idul Adha serta Hari Tasyrik. Dua ibadah ini bukan sekadar ritual tahunan tanpa makna, melainkan sebuah manifestasi ketakwaan yang harus berdampak langsung pada nilai-nilai kemanusiaan universal. 

*Puasa 9 Dzulhijjah (Arafah): Menajamkan Kepekaan Batin*
Sebelum kita menyembelih hewan qurban, Islam menuntun kita untuk menyembelih ego pribadi melalui Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah yang alhamdulillah jatuh pada hari ini, Selasa, 26 Mei 2026. Puasa ini bertepatan dengan momentum jutaan umat manusia berkumpul di Padang Arafah untuk menjalankan wukuf. 

Arafah berarti "mengenal". Melalui ibadah puasa ini, kita diajak untuk mengenali diri kita, mengenali kekurangan kita, dan membersihkan diri dari sifat kebinatangan yang rakus, sombong, dan mementingkan diri sendiri. Menahan lapar dan dahaga selama satu hari penuh adalah latihan spiritual untuk menumbuhkan empati dan kepekaan sosial. Kita merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang dhuafa, yang kelaparan bukan karena berpuasa, melainkan karena kemiskinan yang menghimpit mereka. 

*Ibadah Qurban: Manifestasi Kesalehan Sosial dan Dakwah Berkemajuan*
Memasuki tanggal 10 Dzulhijjah, takbir berkumandang dan ibadah qurban pun dilaksanakan. Merujuk pada sejarah mulia Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, qurban adalah bukti totalitas ketaatan kepada Allah SWT. Namun, mari kita lihat dimensi horizontalnya: dimensi kemanusiaan. 

Di Tubaba, semangat berkurban terus kita rawat sebagai wujud nyata dari Teologi Al-Ma'un yang diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah Tubaba secara konsisten menggerakkan warganya untuk berkurban dan mendistribusikannya hingga ke ranting-ranting terkecil di 9 kecamatan. 
Qurban mengajarkan kita bahwa takwa tidak boleh berhenti di atas sajadah. Takwa harus membumi. Hewan yang kita sembelih adalah simbol dari pengorbanan harta demi membahagiakan sesama.

Melalui daging qurban yang didistribusikan, kita sedang merajut kembali tali persaudaraan, menghapus sekat-sekat sosial antara si kaya dan si miskin, serta menghadirkan senyum di rumah-rumah saudara kita yang membutuhkan. 

*Pesan Moral Idul Adha untuk Kemanusiaan*
Jika kita tarik garis merahnya, Idul Adha mengusung pesan moral kemanusiaan yang sangat tegas, pertama, pemberdayaan dan Nilai Keadilan Sosial. Qurban adalah instrumen Islam untuk memastikan bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan harus dirasakan secara merata. Kedua, Solidaritas Tanpa Batas. Kemanusiaan tidak mengenal batas suku atau golongan. Semangat berbagi dalam Idul Adha menembus batas-batas perbedaan demi tegaknya harkat dan martabat manusia. Ketiga, Semangat Berkemajuan. Di era modern ini, berqurban juga berarti mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga kita untuk memajukan umat, membangun fasilitas pendidikan, dan mengentaskan kemiskinan di bumi Tulang Bawang Barat. 

Sebagai pimpinan persyarikatan di Tubaba, saya mengajak kepada seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk terus merawat spirit berkemajuan ini. Bagi yang tahun ini belum mampu berkurban, mari kita tata niat sejak dini, berikhtiar dengan ikhlas agar di tahun-tahun mendatang kita bisa ikut ambil bagian menjadi agen pembawa kebahagiaan bagi sesama. 

Mari kita jadikan momentum 9 Dzulhijjah dan Idul Adha ini sebagai tonggak untuk meningkatkan ketakwaan spiritual sekaligus memperkuat kesalehan sosial demi kemanusiaan yang berkemajuan. (San)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar