News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ketika "Pisau" Qurban Tak Mampu Menyembelih Ego dan Kesombongan Oleh : Abdurrohman Sholeh Mahasiswa Pascasarjana (Magister PAI) Universitas Muhammadiyah Metro

Ketika "Pisau" Qurban Tak Mampu Menyembelih Ego dan Kesombongan Oleh : Abdurrohman Sholeh Mahasiswa Pascasarjana (Magister PAI) Universitas Muhammadiyah Metro


Ketika "Pisau" Qurban Tak Mampu Menyembelih Ego dan Kesombongan*
Oleh : Abdurrohman Sholeh 
Mahasiswa Pascasarjana (Magister PAI) Universitas Muhammadiyah Metro 

Setiap tahun, umat Islam kembali menyaksikan darah hewan qurban mengalir di pelataran masjid, lapangan desa, hingga halaman pesantren. Pisau diasah, takbir dikumandangkan, sapi dan kambing direbahkan. 
Namun pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah yang sesungguhnya sedang disembelih? Apakah hanya leher hewan, atau justru ego dan kesombongan manusia?

Qurban bukan sekadar ritual penyembelihan biologis. Ia adalah pendidikan spiritual untuk menaklukkan “aku” yang berlebihan. Dalam bahasa Al-Qur’an, yang sampai kepada Allah bukanlah darah dan daging hewan, melainkan ketakwaan manusia. Allah berfirman:
*“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya...”* (QS. al-Hajj: 37).

Ayat ini menegaskan bahwa inti qurban adalah penghancuran ego dan kesombongan diri. 
Nabi Ibrahim tidak hanya diperintah menyembelih Ismail, tetapi juga diperintahkan menyembelih ego kebapakan, rasa memiliki, dan ambisi personalnya. Ismail pun tidak hanya menjadi objek pengorbanan, melainkan subjek kepatuhan yang rela mengalahkan ego mudanya demi ketaatan kepada Tuhan.

Karena itu, qurban sejatinya adalah perang melawan ego: ego kekuasaan, ego intelektual, ego moral, ego sosial, bahkan ego religius.

Ironisnya, di tengah gema takbir dan semangat berqurban, ruang publik Indonesia justru dipenuhi pertunjukan ego yang vulgar. 
Dalam beberapa hari terakhir, publik disuguhi polemik Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat. Sebuah arena pendidikan yang seharusnya menjadi ruang pembelajaran etika dan kecerdasan justru berubah menjadi panggung arogansi kekuasaan simbolik.
Kasus itu viral setelah dewan juri memberikan penilaian berbeda terhadap dua jawaban peserta yang substansinya sama. Ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan tentang pemilihan anggota BPK, jawaban mereka dinilai salah dan diberi minus lima. Namun jawaban serupa dari kelompok lain justru diberi nilai sempurna. Alasan yang kemudian dimunculkan adalah persoalan “artikulasi” dan ketidakjelasan penyebutan DPD (Detik, 2026). 

Masalahnya bukan sekadar teknis perlombaan. Publik marah karena melihat sesuatu yang lebih dalam : ego otoritas. 

Ketika peserta mencoba menyampaikan keberatan, dewan juri tetap mempertahankan keputusan tanpa kerendahan hati untuk mengoreksi diri. Bahkan MC dalam acara tersebut dianggap ikut memperkeruh suasana melalui cara komunikasi yang dinilai tidak empatik terhadap peserta. 

Polemik itu akhirnya memaksa MPR RI meminta maaf dan menonaktifkan juri serta MC untuk evaluasi menyeluruh (Detik, 2026). 

Di sinilah qurban menemukan relevansinya. Hewan yang disembelih setiap Idul Adha sesungguhnya adalah simbol dari “binatang ego dan kesombongan” dalam diri manusia. *Ketika seorang juri tidak mampu menerima kemungkinan dirinya salah, ketika otoritas lebih penting daripada keadilan, ketika gengsi lebih besar daripada objektivitas, maka sesungguhnya ego itulah yang gagal disembelih.*

Lebih tragis lagi, peristiwa itu terjadi dalam lomba “Empat Pilar”, sebuah forum yang mestinya menanamkan nilai demokrasi, keadilan, dan etika kebangsaan. Pendidikan akhirnya kehilangan ruh ketika ia hanya menjadi instrumen mempertontonkan superioritas.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan gejala sosial yang lebih luas; bangsa yang semakin sulit mengalahkan ego kolektifnya.

Hal yang sama tampak dalam polemik pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai masyarakat desa yang *“tidak memakai dolar”.* Pernyataan itu muncul sebagai respons atas kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah hingga sekitar Rp17.600 per dolar AS. Dalam pidatonya, Presiden menyatakan bahwa rakyat desa tidak menggunakan dolar sehingga kondisi ekonomi dinilai masih aman (IDN Times, 2026).

Pernyataan tersebut kemudian menuai kritik luas karena dianggap mereduksi persoalan ekonomi menjadi sekadar soal transaksi langsung menggunakan mata uang dolar. Padahal, struktur ekonomi Indonesia sangat bergantung pada impor; pupuk, BBM, bahan pangan tertentu, obat-obatan, hingga pakan ternak dipengaruhi kurs dolar AS. Ketika rupiah melemah, dampaknya tetap menjalar hingga desa-desa melalui kenaikan harga barang dan biaya produksi. 

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa masyarakat desa tetap terdampak oleh fluktuasi dolar karena rantai ekonomi nasional saling terhubung (IDN Times, 2026). 

Realitas di lapangan memang menunjukkan bahwa rakyat sedang menghadapi tekanan ekonomi yang serius. Lapangan pekerjaan semakin sulit diperoleh, terutama bagi generasi muda. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka usia muda di Indonesia masih berada pada level tinggi dibanding kelompok usia lainnya. Banyak lulusan sarjana dan diploma yang tidak terserap pasar kerja, sementara gelombang PHK di sektor industri manufaktur dan teknologi terus terjadi sepanjang 2025–2026 (Badan Pusat Statistik, 2025).

Pada saat yang sama, masyarakat juga menghadapi krisis pangan yang makin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Harga beras, cabai, minyak goreng, telur, dan bahan kebutuhan pokok lainnya mengalami kenaikan di banyak daerah akibat gangguan distribusi, cuaca ekstrem, ketergantungan impor, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan fluktuasi harga beras premium dan medium terus terjadi sepanjang awal 2026, sementara Bank Indonesia mengakui bahwa kelompok volatile food menjadi salah satu penyumbang tekanan inflasi domestik (Bank Indonesia, 2026).

Dalam kondisi seperti itu, pernyataan bahwa “rakyat desa tidak memakai dolar” terdengar problematik karena mengabaikan kenyataan ekonomi rakyat kecil. Petani memang tidak bertransaksi menggunakan dolar, tetapi pupuk yang mereka beli dipengaruhi harga global. Nelayan tidak dibayar dengan dolar, tetapi solar untuk melaut ikut terdampak kurs mata uang asing. Pedagang kecil tidak menabung dolar, tetapi harga sembako di pasar naik ketika rupiah melemah.

Di sinilah persoalan ego kekuasaan menjadi relevan. Ketika pemimpin lebih sibuk membangun optimisme verbal daripada mengakui beratnya realitas ekonomi, publik menangkap adanya jarak antara elite dan rakyat. Qurban mengajarkan sebaliknya. 

Nabi Ibrahim tidak menenangkan dirinya dengan ilusi, melainkan menghadapi ujian dengan keberanian moral dan kejujuran spiritual.
Ego memang selalu menemukan jalannya dalam berbagai bentuk. 

Dalam birokrasi, ia muncul sebagai sikap antikritik. 
Dalam politik, ia tampil sebagai populisme yang menolak evaluasi. Dalam pendidikan, ia menjelma sebagai otoritas yang tidak mau dikoreksi. Bahkan dalam agama, ego bisa berubah menjadi kesalehan yang merasa paling benar.

Padahal, inti keberagamaan justru terletak pada kemampuan mengendalikan ego dan kesombongan tersebut.

Psikolog sosial Erich Fromm menjelaskan bahwa manusia modern cenderung terjebak dalam orientasi “memiliki” daripada “menjadi”. 
Orang ingin memiliki kekuasaan, pengaruh, status, dan kemenangan simbolik. Akibatnya, relasi sosial berubah menjadi arena dominasi (Fromm, 1976).

Sementara itu, René Girard melalui teori mimetic desire menjelaskan bahwa konflik sosial sering lahir dari hasrat manusia untuk mengungguli pihak lain. Manusia tidak sekadar menginginkan sesuatu, tetapi ingin menjadi lebih tinggi daripada orang lain. Karena itu, kompetisi modern sering berubah menjadi pertarungan ego kolektif (Girard, 1977).

Fenomena tersebut tampak jelas dalam ruang publik Indonesia hari ini. Banyak institusi lebih sibuk menjaga gengsi daripada membangun keadilan. Banyak pejabat lebih takut kehilangan wibawa daripada kehilangan kepercayaan rakyat. Banyak forum pendidikan lebih menekankan kemenangan simbolik daripada pembentukan karakter.

Akibatnya, masyarakat hidup dalam budaya defensif. Semua orang ingin menang sendiri. Tidak ada ruang cukup bagi kerendahan hati.
Padahal, qurban justru mendidik manusia untuk meruntuhkan mentalitas tersebut.

Takbir Idul Adha sesungguhnya adalah deklarasi bahwa tidak ada yang paling besar selain Allah. Jabatan tidak besar. Popularitas tidak besar. Kekuasaan tidak besar. Bahkan ego manusia tidak besar.

Dalam tradisi tasawuf, ego atau nafs dan kesombongan sering dipandang sebagai “berhala batin” yang lebih berbahaya daripada berhala fisik.

Ibn ‘Athaillah dalam al-Hikam menegaskan bahwa sumber utama kehancuran spiritual manusia adalah keterikatan pada diri sendiri. Karena itu, penyembelihan ego menjadi inti perjalanan menuju kematangan moral.

Di titik inilah qurban seharusnya menjadi momentum kritik sosial. Jangan sampai ritual qurban hanya menghasilkan daging, tetapi gagal melahirkan kesadaran etis. 
Jangan sampai tangan kita sibuk menyembelih kambing, tetapi lidah tetap gemar merendahkan orang lain. 
Jangan sampai masjid penuh gema takbir, tetapi ruang publik tetap dipenuhi arogansi dan penghinaan.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah kerendahan hati. Kita tidak kekurangan pejabat, juri, moderator, pemimpin, atau pengamat. Yang langka adalah kemampuan mengakui kesalahan.
Karena itu, qurban tahun ini harus dimaknai lebih dalam: menyembelih ego dan kesombongan sebelum menyembelih hewan. Sebab krisis terbesar bangsa ini mungkin bukan hanya krisis ekonomi, melainkan krisis ketulusan. Bukan sekadar krisis pangan dan lapangan pekerjaan, tetapi juga krisis kedewasaan moral.

Ketika ego terus dipelihara, pendidikan berubah menjadi arena penghinaan, politik berubah menjadi panggung pencitraan, dan agama berubah menjadi simbol tanpa makna.

Namun ketika ego berhasil dikalahkan, keadilan menjadi mungkin, dialog menjadi sehat, dan kekuasaan menjadi lebih manusiawi.
Mungkin itulah pesan terdalam qurban, bahwa yang paling sulit disembelih bukan sapi atau kambing, melainkan ego dan kesombongan dalam diri sendiri.(San)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar