News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Idul Adha: Sebuah Refleksi Menghidupkan Kesalehan Sosial, Membangun Peradaban Tubaba Unggul Berkemajuan

Idul Adha: Sebuah Refleksi Menghidupkan Kesalehan Sosial, Membangun Peradaban Tubaba Unggul Berkemajuan

Oleh: H. Susilo Aris Nugroho, S.Th.I., S.IP. (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulang Bawang Barat)

Pagi hari ini, gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang memecah kesunyian batin. Jutaan manusia berkumpul di tempat yang berkah, tak terkecuali kita hang berada di bumi ragem sai mangi wawai, menundukkan jiwa dan ego kepemilikan kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Hari ini adalah momentum besar bagi kita untuk mengambil jeda spiritual. Sebuah titik balik untuk merefleksikan kembali hakikat ketaatan kita melalui kisah agung Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS.

Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih hewan ternak. Lebih dari itu, Idul Adha adalah sebuah momentum besar untuk menghidupkan kesalehan sosial dan membangun peradaban. 

Bagi kita warga maayarakat Tulang Bawang Barat ( Tubaba ), pesan luhur pengorbanan ini harus dikontekstualisasikan menjadi energi penggerak untuk mewujudkan Tubaba yang Unggul dan Berkemajuan.

Jika kita membuka kembali lembaran sejarah bapaknya para nabi, Nabi Ibrahim AS, kita mendapati bahwa ketakwaan sejati selalu melahirkan dampak sosial yang nyata. Ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk mengorbankan putra tercintanya, Ismail AS, perintah itu sejatinya menuntut kerelaan untuk menyembelih ego pribadi, kecintaan buta pada dunia, serta ketakutan akan kehilangan materi.
Dari rahim ketundukan mutlak inilah lahir konsep kesalehan sosial. Hewan kurban yang kita sembelih hari ini tidak akan sampai daging dan darahnya kepada Allah, melainkan ketakwaan dan keikhlasan kitalah yang sampai kepada-Nya (QS. Al-Hajj: 37).

Daging kurban yang kemudian dibagi-bagikan secara merata kepada fakir miskin dan sesama adalah simbol runtuhnya dinding egoisme. Ini adalah bukti sahih bahwa Islam melarang pemeluknya menjadi saleh sendirian secara individu, sementara abai terhadap realitas kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan di sekitarnya. Kesalehan ritual harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial.


Lantas bagaimana kita membumikan nilai kesalehan sosial Idul Adha ini di bumi Tubaba? Kuncinya adalah dengan menyelaraskan spirit kurban dengan identitas dan falsafah hidup kebaikan yang selama ini kita gaungkan bersama, yaitu karakteristik Nenemo (Nemen, Nedes, Neremo).

*Nemen (Kerja Keras yang Totalitas)*
Nabi Ibrahim AS adalah prototipe hamba yang nemen dalam memperjuangkan tauhid dan peradaban umat. Beliau bekerja keras membangun Ka'bah, meniti ujian demi ujian tanpa mengeluh. Untuk membangun Tubaba yang unggul berkemajuan, kita butuh mentalitas nemen. Generasi muda Muhammadiyah dan seluruh warga Tubaba harus menjadi pribadi yang produktif, pekerja keras di bidangnya masing-masing, kreatif, dan tidak malas. Kemajuan daerah tidak akan lahir dari angan-angan kosong, melainkan dari peluh kerja keras yang diniatkan sebagai ibadah.

*Nedes (Tahan Banting, Tangguh, dan Konsisten)*
Siti Hajar memberikan pelajaran tentang nedes saat berlari antara Shofa dan Marwah demi mencari air untuk bayinya. Beliau tidak putus asa di tengah teriknya gurun pasir yang tandus. Karakter nedes inilah yang hari ini kita butuhkan untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari tantangan degradasi moral, ketimpangan ekonomi, hingga persaingan global. Kita harus tangguh dan tahan banting, konsisten menegakkan kebenaran, serta konsisten memajukan amal usaha baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun sosial.

*Nerimo (Ikhlas, Bersyukur, dan Berlapang Dada)*
Nabi Ismail AS dengan penuh ketulusan berkata, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Inilah puncak dari sikap neremo. Berserah diri kepada ketetapan Allah, sembari mengorbankan apa yang paling dicintai demi kemaslahatan yang lebih besar. Sikap nerimo mendidik kita untuk menjauhi sifat serakah, koruptif, dan mementingkan diri sendiri.

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar memandang bahwa kemajuan suatu peradaban diukur dari sejauh mana masyarakatnya mampu saling menopang. Melalui gerakan filantropi, seperti Lazismu dan penguatan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan serta pemberdayaan ekonomi, kita sedang berikhtiar menerjemahkan perintah kurban ke dalam sistem sosial yang berkemajuan.

Mari kita jadikan momen Idul Adha ini sebagai tonggak awal untuk merajut kembali persatuan, memperkuat gotong royong, dan memedulikan tetangga serta saudara-saudara kita yang masih membutuhkan uluran tangan. Peradaban Tubaba yang unggul tidak hanya dinilai dari megahnya infrastruktur fisik yang berdiri, tetapi dari tingginya martabat, akhlak, dan kepedulian sosial warganya.

Mari kita sembelih sifat egois, sifat sombong, dan sifat malas yang bersarang dalam diri kita. Gantikan ia dengan semangat berkorban, kerja ikhlas, dan pengabdian tanpa pamrih untuk agama, bangsa, dan tanah kelahiran Tubaba tercinta. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar