Momentum Ramadan untuk Mengukuhkan Toleransi dalam Perbedaan
PANARAGAN - Datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah membawa semangat kedamaian yang harus dijadikan pondasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Himbauan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulang Bawang Barat (Tubaba) yang disampaikan Ketua Susilo Aris Nugroho merupakan contoh nyata bagaimana organisasi keagamaan dapat menjadi agen perdamaian di tengah dinamika perbedaan penentuan awal puasa.
Perbedaan dalam menetapkan awal bulan Ramadan bukanlah hal yang baru, melainkan bagian dari proses ijtihad yang kaya akan makna dalam khazanah Islam. Sikap yang dianjurkan oleh PDM Tubaba menjunjung tinggi tasamuh tanpa mengurangi keyakinan pada metode hisab yang dianut menunjukkan kematangan dalam memandang pluralisme beragama dan keilmuan. Hal ini sejalan dengan esensi ajaran Islam yang mengajak umatnya untuk saling menghormati dan hidup berdampingan dengan baik.
Sebagai salah satu organisasi besar yang memiliki akar yang kuat di masyarakat, peran Muhammadiyah sebagai pelopor menjaga kondusivitas lingkungan sangat krusial. Pesan untuk menjalankan ibadah dengan khidmat sambil tetap menghormati cara berbeda dalam menjalankan ritual agama adalah bentuk konkret dari toleransi sejati dimana setiap individu tetap memegang teguh identitas keimanan, namun mampu menerima dan menghargai perbedaan orang lain.
Penetapan awal puasa Muhammadiyah Tubaba pada Rabu 18 Februari 2026 berdasarkan kebijakan pusat dengan mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) juga menunjukkan komitmen pada aturan yang telah ditetapkan, sekaligus membuka ruang untuk menghargai pilihan yang diambil oleh komunitas lain. Semoga himbauan ini dapat menyebar luas dan menjadi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat tali persaudaraan dan kerukunan di Bumi Ragem Sai Mangi Wawai. (*)
Posting Komentar